Ritual Pesalin Dayak Ketapang Warnai PGD ke-40 Kalbar

Prosesi adat Pesalin khas Dayak Ketapang menjadi salah satu agenda sakral dalam Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat ke-40 di Rumah Radakng. Ritual ini merupakan tradisi pemberian gelar kehormatan adat yang diwariskan turun-temurun. (ist)

IMBANG, Pontianak – Ritual adat Pesalin khas Dayak Ketapang menjadi salah satu perhatian utama dalam Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat ke-40 Tahun 2026 yang digelar di Rumah Radakng.

Prosesi sakral tersebut merupakan tradisi pemberian gelar kehormatan adat yang diwariskan turun-temurun dan dilaksanakan melalui tata cara adat oleh para pemangku serta sesepuh adat Dayak.

Dalam prosesi itu, sejumlah tokoh nasional, jajaran Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), hingga tamu dari Sarawak, Malaysia menerima gelar kehormatan adat Dayak Ketapang.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo menegaskan bahwa pemberian gelar adat tidak dilakukan sembarangan karena memiliki makna dan tanggung jawab moral yang besar.

“Dalam tradisi Dayak Ketapang, gelar adat diberikan melalui proses adat yang sah oleh para pemangku dan sesepuh adat. Ini bukan sekadar simbol, tetapi penghormatan terhadap nilai leluhur,” katanya.

Ia menilai adat merupakan marwah masyarakat Dayak yang harus dijaga bersama agar tidak kehilangan nilai dan kesakralannya di tengah perkembangan modernisasi.

Pelaksanaan PGD ke-40 juga dinilai membawa dampak positif bagi daerah, terutama dalam menggerakkan UMKM, ekonomi kreatif, sektor pariwisata, hingga promosi budaya Kalimantan Barat di tingkat nasional maupun internasional.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan masuknya Pekan Gawai Dayak dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) menjadi peluang besar memperkenalkan budaya Dayak kepada wisatawan domestik dan mancanegara.

Selain ritual Pesalin, PGD ke-40 turut diramaikan berbagai pertunjukan seni budaya, pawai kendaraan hias, dan atraksi adat dari seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Kabupaten Ketapang sebagai tuan rumah membawa pesan penting bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi jati diri yang harus dijaga bersama. (Adv)

Penulis: SariEditor: Tim Redaksi