Imbang, Kayong Utara – Sebanyak 89 peserta program Operations Development Programme (ODP) yang diproyeksikan bekerja di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) secara resmi telah kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan kerja dan operasional industri selama tiga bulan di Holingol, China, Selasa (11/8/2026).
Kepulangan para peserta ini menandai kesiapan tenaga kerja teknis lokal untuk mengoperasikan fasilitas pusat pengolahan aluminium terintegrasi yang berlokasi di Pulau Penebang, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Program pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri ini diinisiasi oleh manajemen KIPP sebagai langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja berketerampilan khusus.
Dari total 89 peserta ODP yang berhasil menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan intensif tersebut, sebanyak 14 orang merupakan putra-putri daerah asli Kabupaten Kayong Utara (KKU).
Sebelum diberangkatkan ke Tiongkok, seluruh peserta ODP diwajibkan menjalani program pembekalan bahasa Mandarin dan budaya kerja selama tiga bulan penuh di dalam negeri.
Program pra-keberangkatan tersebut diselenggarakan melalui kerjasama strategis antara pihak perusahaan dengan dua lembaga pendidikan tinggi di Kalimantan Barat, yakni Confucius Institute Universitas Tanjungpura (Ci-Untan) Pontianak dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama Kubu Raya.
Penguasaan bahasa Mandarin menjadi fondasi krusial bagi para peserta selama menjalani pelatihan lapangan di Holingol. Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat industri ekstraktif dan manufaktur aluminium ternama di China tersebut, peserta tidak hanya menerima pengajaran teori di kelas, melainkan berinteraksi langsung dalam dinamika kerja harian bersama para instruktur ahli lokal (shifu) serta tenaga kerja asing di fasilitas produksi.
Selama menjalani pelatihan terapan di pabrik pengolahan aluminium di Holingol, para peserta diberikan akses langsung untuk mempelajari dan mengoperasikan teknologi industri tingkat tinggi. Salah satu keahlian teknis utama yang berhasil dikuasai peserta adalah pengoperasian sel elektrolisis, sebuah proses inti berteknologi tinggi dalam manufaktur peleburan aluminium primer.
Rivalzan, salah seorang peserta ODP asal Kayong Utara, mengungkapkan bahwa pengalaman bekerja langsung di lini produksi industri aluminium modern memberikan pemahaman mendalam yang sulit didapatkan di tempat lain.
Menurutnya, adaptasi terhadap suhu operasional pabrik yang sangat tinggi serta penggunaan peralatan industri berat menjadi tantangan yang berhasil diatasi berkat bimbingan intensif dari para instruktur.
“Pengalaman yang paling berharga itu yang pasti ilmu mengoperasikan sel elektrolisis, karena kesempatan ini sangat langka. Apalagi kita bisa belajar langsung di China. Pertama saya bisa kenal dengan shifu-shifu dari China, kerja bareng TKA, dan merasakan langsung budaya kerja di sana. Sekarang saya sudah siap kembali bekerja dan berkarya untuk Kayong Utara,” ujar Rivalzan.
Selain penguasaan aspek teknis operasional mesin, para peserta juga disimulasikan pada penerapan budaya disiplin dan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ketat. Kesan mendalam mengenai budaya disiplin dan etos kerja industri di China turut disampaikan oleh peserta ODP lainnya, Robin Mahendra.
Menurut Robin, pembelajaran yang didapatkan selama enam bulan total masa program (tiga bulan bahasa dan tiga bulan praktikum di China) tidak hanya sebatas kemampuan teknis, melainkan pembentukan mentalitas dan profesionalisme.
“Di China banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Para shifu mengajarkan kami untuk selalu disiplin, bagaimana cara membangun relasi yang profesional dengan atasan, serta bagaimana cara disiplin penuh terhadap penyelesaian pekerjaan. Ini pengalaman yang sangat berharga,” ungkap Robin.
Pola bimbingan melekat yang diterapkan oleh para mentor teknis setempat memungkinkan transfer pengetahuan (knowledge transfer) terjadi secara efektif dan terukur. Setelah menyelesaikan seluruh siklus pembelajaran dan meraih sertifikasi keahlian, para peserta dijadwalkan langsung memperkuat jajaran tenaga teknis di KIPP.
Pengiriman 89 peserta ODP ini termasuk 14 warga asli Kayong Utara menegaskan komitmen manajemen KIPP dalam mendorong keterlibatan talenta lokal pada proyek-proyek strategis berbasis industri manufaktur.
Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret untuk mengikis ketimpangan keahlian (skill gap) yang kerap menjadi kendala dalam penyerapan tenaga kerja daerah pada sektor industri berat.
Zeny Nur Oktaviani, peserta ODP wanita asal Kayong Utara, menyatakan optimismenya untuk langsung berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerahnya melalui pengoperasian fasilitas industri di Pulau Penebang.
“Pengalaman di China memberikan ilmu baru untuk pekerjaan yang akan datang. Mentor-mentor bimbing kami dengan sangat bijaksana. Tentu saja saya sangat siap untuk memajukan Kayong Utara, terutama tempat asal saya sendiri. Saya siap untuk bekerja di Penebang,” tegas Zeny.
Penyiapan SDM terampil melalui program ODP ini dipandang sebagai pilar penting keberlanjutan investasi di Kabupaten Kayong Utara. Kehadiran pusat pengolahan aluminium terintegrasi di Pulau Penebang diharapkan tidak hanya menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga menciptakan efek multiplier bagi percepatan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Dengan kembalinya 89 peserta berbekal kompetensi, pengalaman internasional, dan pemahaman teknologi mutakhir, KIPP siap melangkah ke tahap operasional berikutnya dengan mengandalkan sinergi antara teknologi global dan kekuatan SDM lokal Indonesia.(Adv)












