Anyaman Kayong Utara Didorong Angkat Identitas Pesisir dan Cerita Lokal Kalimantan

Para perajin anyaman asal Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, menunjukkan produk kerajinan berbahan pandan yang dikembangkan menjadi berbagai barang fungsional, mulai dari tas hingga perlengkapan rumah tangga. Melalui program Penguatan Potensi UMKM Lokal yang diinisiasi KIPP, para perajin didorong untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas peluang pemasaran ke pasar nasional.

IMBANG, Kayong Utara – Kekayaan alam pesisir dan cerita lokal Kalimantan berpeluang menjadi identitas khas kerajinan anyaman pandan dari Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Melalui pengembangan motif, warna, dan desain yang terinspirasi dari lingkungan sekitar, anyaman tradisional dapat tampil dengan karakter yang lebih kuat sekaligus memiliki daya tarik bagi pasar yang lebih luas.

Peluang tersebut menjadi salah satu masukan yang disampaikan CEO dan Founder Kampoeng Anyaman, Danang Sudrajat, dalam program Penguatan Potensi UMKM Lokal bertema “Mengembangkan Keterampilan Anyaman Menjadi Peluang Usaha” yang diinisiasi Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) bersama Kompas Lestari dan Kampoeng Anyaman. Kegiatan berlangsung pada 17–20 Oktober 2026 di Hotel Mahkota Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

“Produk anyaman Kayong Utara memiliki variasi dan potensi untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tambah, termasuk dekorasi rumah (home decor) dan perlengkapan hotel (hotel amenities). Salah satu peluangnya memperkuat identitas produk melalui inspirasi dari karakter geografis pesisir, ornamen biota laut, serta cerita lokal Kalimantan,” katanya.

Pendekatan ini dapat membuat anyaman tidak hanya berfungsi sebagai produk kerajinan, tetapi juga membawa cerita mengenai lingkungan dan kekayaan budaya daerah asalnya. Keunikan tersebut berpotensi menjadi pembeda ketika produk diperkenalkan kepada konsumen di luar Kayong Utara.

Kekayaan Pesisir sebagai Inspirasi Desain

Kayong Utara memiliki karakter wilayah pesisir yang dapat menjadi sumber inspirasi pengembangan desain kerajinan. Unsur seperti bentuk biota laut, kehidupan masyarakat pesisir, serta warna yang terinspirasi dari lingkungan alam dapat dieksplorasi menjadi motif dan karakter visual produk anyaman.

Inspirasi tersebut juga dapat diterapkan pada berbagai jenis produk, mulai dari tas, tempat tisu, hingga dekorasi rumah. Dengan pengembangan desain yang konsisten, kerajinan anyaman Kayong Utara berpeluang memiliki identitas yang mudah dikenali sekaligus tetap mempertahankan keterampilan tradisional para perajin.

Cerita lokal Kalimantan juga dapat menjadi bagian dari daya tarik produk. Latar belakang motif, inspirasi desain, dan proses pembuatan dapat diperkenalkan melalui kemasan maupun pemasaran digital sehingga konsumen memperoleh gambaran mengenai nilai budaya dan keterampilan di balik setiap produk.

Meski demikian, pengembangan identitas tersebut perlu diikuti peningkatan kualitas, kerapian, konsistensi produksi, serta inovasi motif dan pewarnaan. Kapasitas produksi dan kemitraan juga menjadi aspek penting agar perajin dapat memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

Menghubungkan Keterampilan Perajin dengan Peluang Pasar

Pengembangan identitas produk merupakan salah satu aspek dalam program penguatan UMKM lokal yang diselenggarakan KIPP bersama para mitra.

Program ini tidak hanya membahas peningkatan keterampilan menganyam, tetapi juga inovasi produk, tata kelola usaha, manajemen keuangan, serta peluang pasar dan pemasaran digital.

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Hilaria Yusnani, yang turut menjembatani para perajin dengan KIPP, menilai Kayong Utara memiliki potensi kerajinan anyaman yang besar. Produk yang sebelumnya dikenal dalam bentuk tikar pandan kini telah berkembang menjadi beragam barang fungsional, seperti tas, tempat tisu, dan tempat minuman.

Namun, menurut Hilaria, potensi tersebut masih perlu didukung koordinasi usaha dan akses pemasaran yang lebih luas.

“Selama ini penjualan masih sebatas person-to-person dan hanya segelintir perajin yang pernah mengikuti pameran. Sangat disayangkan apabila potensi sebesar ini tidak dikembangkan ke pasar yang lebih luas,” ujar Hilaria.

Ia berharap pengembangan produk dan pemanfaatan media sosial dapat membantu para perajin memperkenalkan hasil kerajinan kepada lebih banyak calon konsumen.

Salah seorang perajin anyaman pandan asal Sukadana,Kayong Utara, Safarida, yang akrab disapa Bu Ida, juga merasakan manfaat pembelajaran dalam program tersebut. Ia telah menekuni kegiatan menganyam sejak sekolah dasar dan kini menghasilkan berbagai produk, mulai dari tikar pandan, tas, tempat tisu, tempat pensil, hingga kopiah dan tanjak.

Melalui pelatihan, Safarida memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan produk baru dan perhitungan harga jual yang lebih menyeluruh. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan usaha sekaligus menyesuaikan produk dengan peluang pasar.

External Relations Manager KIPP, Sugeng Sulistiyo, menyampaikan penguatan kapasitas UMKM merupakan salah satu upaya untuk mendukung masyarakat mengembangkan potensi lokal.

“Kami melihat masyarakat Kayong Utara memiliki potensi dan keterampilan yang dapat terus dikembangkan. Melalui program ini, KIPP ingin mendukung para perajin agar tidak hanya mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memahami cara mengelola usaha dan memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Harapannya, kerajinan anyaman lokal semakin dikenal, memiliki daya saing, dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat,” ujar Sugeng.

Melalui kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, KIPP berharap kerajinan anyaman Kayong Utara dapat terus dikembangkan melalui inovasi desain, peningkatan kualitas, dan penguatan pemasaran. Dengan mengangkat karakter pesisir dan cerita lokal Kalimantan, anyaman Kayong Utara berpeluang memiliki identitas produk yang khas sekaligus membuka jalan bagi pengembangan UMKM berbasis potensi daerah. (Adv)

Penulis: RilisEditor: Tim Redaksi